SEBAGAI CALON GUBERNUR DKI
JAKARTA PADA PILKADA 2017
Program
Studi Teknologi Pangan
Kelompok 2
Ketua
Kelompok:
Carlins
Poernomo (1501010001)
Anggota
Kelompok:
Ananta Gabriella P. (1501010060)
Anastasia Monika (1501010049)
Anthony
Sutiono (1501010022)
Dani Muliawan Halim (1501010010)
Hosiana Natasya K. (1501010014)
Kris Amelia (1501010008)
Otniel Yosia (1501010031)
Nilai
Presentasi:
100
Program Studi Teknologi Pangan
Fakultas
Ilmu Hayati
Universitas
Surya
Bogor
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya maka laporan ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan
yang berjudul “Tanggapan Pemilih Pemula terhadap Selebriti yang Mencalonkan Diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta pada PILKADA 2017“ ini disusun dalam rangka
memenuhi nilai ujian akhir semester pendidikan kewarganegaraan pada
Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya.
Pencalonan selebriti sebagai calon
gubernur DKI Jakarta saat ini menjadi topik hangat di kalangan masyarakat.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon masyarakat terutama pemilih
pemula tentang tanggapan mereka terhadap pencalonan selebriti ini. Peneliti
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya
penelitian ini terutama Bapak Aryaning Arya Kresna,
S.Fil. M.Hum, selaku dosen pengampu pendidikan kewarganegaraan.
Penelitian ini pun dapat terlaksana dengan
baik karena bantuan sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jakarta yang telah membantu
peneliti dalam menyebarkan kuesioner kepada siswa/i. Peneliti berharap
penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Selain itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan bersama pada masa mendatang.
Tangerang, 20 Juni 2016
Tim Peneliti
TANGGAPAN
PEMILIH PEMULA TERHADAP SELEBRITI YANG MENCALONKAN DIRI SEBAGAI CALON GUBERNUR
DKI
JAKARTA PADA PILKADA 2017
Carlins Poernomo, Ananta Gabriella Pradipta, Anastasia
Monika, Anthony Sutiono, Dani Muliawan Halim, Hosiana Natasya Karundeng, Kris
Amelia, Otniel Yosia
(viii
+ 54 hlm; 15 tabel; 9 grafik; 4 lampiran)
Penelitian
ini merupakan suatu upaya untuk memahami fenomena selebriti yang mulai terjun
ke dunia politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan pemilih
pemula terhadap selebriti yang mencalonkan diri dalam PILKADA DKI Jakarta tahun
2017. Sifat penelitian ini adalah kuantitatif yang pengumpulan datanya
dilakukan melalui pembagian kuesioner kepada siswa/siswi SMA/SMK yang
berdomisili di DKI Jakarta. Berdasarkan 963 kuesioner yang telah
direkapitulasi, diperoleh hasil bahwa terdapat 74,25% responden yang tidak setuju jika selebriti terjun dalam dunia
politik, 62,82% responden setuju bahwa selebriti lebih mudah memperoleh
dukungan dalam politik, 92,52% responden tidak setuju dengan Ahmad Dhani yang
mencalonkan diri pada PILKADA 2017, dan 96,26% responden tidak akan memilih
Ahmad Dhani apabila beliau menjadi kandidat Calon Gubernur. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pemilih pemula tidak setuju jika selebriti mencalonkan diri
sebagai Calon Gubernur pada PILKADA 2017.
Referensi : 27 (1989 – 2015)
Kata kunci : PILKADA,
politik, selebriti.
THE
RESPONSES OF BEGINNER ELECTORS ABOUT CELEBRITIES WHO ARE RUNNING FOR THE
GOVERNOR OF DKI JAKARTA
IN PILKADA 2017
Carlins Poernomo, Ananta Gabriella Pradipta, Anastasia
Monika, Anthony Sutiono, Dani Muliawan Halim, Hosiana Natasya Karundeng, Kris
Amelia, Otniel Yosia
carlins.poernomo15@student.surya.ac.id
Surya University, Tangerang
ABSTRACT
(viii + 50 pages; 15 tables; 9 graphs; 4 attachments)
This research is an effort to understand the
phenomenon of celebrities that started to join the politics. The purpose of
this research is to find out the responses of beginner electors about
celebrities who are running for the governor of DKI Jakarta in PILKADA 2017. The quality of this research is quantitative which was done by
distributing questionnaires to Senior High School students that lived in
DKI Jakarta. Based on 963 questionnaires that have been recapitulated,
the conclusions are 74,25% respondents do not agree if celebrities join
politic, 62,82% respondents agree
that celebrities can get supporters more easily, 92,52% respondents does not agree if Ahmad
Dhani become the candidate in PILKADA
2017 and 96,26% respondents will not choose Ahmad Dhani if he became the candidate for The Governor. So, it can be concluded that the beginner electors do not agree if
celebrities running for the Governor Candidate in PILKADA 2017.
References :
27 (1989 – 2015)
Key words :
celebrity, PILKADA, politic.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR DIAGRAM
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.2 Manfaat Praktis
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Politik
2.1.1.1 Politik di Indonesia
2.1.1.2 Politik di DKI Jakarta
2.1.2 Partisipasi Politik
2.1.2.1 Unsur-unsur Partisipasi Politik
2.1.2.2 Sarana Partisipasi Politik
2.1.2.3 Bentuk Partisipasi Politik
2.1.2.4 Rambu-rambu Partisipasi Politik
2.1.3 Pemilih
2.1.3.1 Persepsi Pemilih
2.1.3.2 Perilaku Pemilih
2.1.4 Perilaku Politik
2.1.5 Pendekatan Rasional
2.1.6 Selebriti
2.1.6.1 Selebriti Terjun dalam Dunia Politik
2.1.6.2 Pengaruh Popularitas terhadap Partisipasi Selebriti
dalam Dunia Politik
2.1.6.3 Kapabilitas Kepemimpinan Selebriti
2.2 Metode Penelitian dan Prosedur Kerja
2.2.1 Metode Penelitian
2.2.2 Variabel Penelitian
2.2.3 Objek dan Subjek Penelitian
2.2.4 Populasi dan Sampel
2.2.5 Instrumen Penelitian
2.2.5.1 Kuesioner
2.2.5.2 Observasi
2.2.5.3 Studi Pustaka
2.2.6 Teknik Analisis Data
2.2.7 Prosedur Pelaksanaan Penelitian
2.3 Analisis dan Interpretasi Data
2.3.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
2.3.2 Hasil Penelitian
2.3.3 Analisis Data
BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
3.2.1 Saran bagi Pemerintah
3.2.2 Saran bagi Masyarakat
3.2.3 Saran bagi Peneliti
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 1.
KUESIONER
LAMPIRAN 2. SURAT
IZIN
LAMPIRAN 3. CONTOH
KUESIONER YANG TELAH DIISI
LAMPIRAN 4. GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR DIAGRAM
BAB I PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Indonesia
sebagai negara demokrasi mengutamakan pemilihan umum (PEMILU) sebagai alat
untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta pemilihan kepala daerah
(PILKADA) untuk memilih Gubernur/Walikota dan Wakil Gubernur/Wakil Walikota.
PILKADA menjadi penentu berjalan atau tidaknya suatu daerah. PILKADA dijalankan
berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Melalui
PILKADA, setiap warga negara dapat menggunakan hak pilihnya untuk memilih wakil rakyat pada daerah mereka, serta untuk membentuk
pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka
mewujudkan tujuan nasional. Oleh karena itu, peneliti mengadakan
penelitian mengenai PILKADA 2017 yang secara khusus membahas tentang selebriti
yang mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta pada
PILKADA 2017.
1.1
Latar
Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan
yang dilaksanakan dengan cara memberi kesempatan bagi setiap daerah untuk
menyelenggarakan otonomi daerah. Landasan yang kuat dalam penyelenggaraan
otonomi daerah tertulis dalam ketetapan MPR - RI Nomor XV/MPR/1998 tentang
penyelenggaraan otonomi daerah yang dilaksanakan dengan memberikan wewenang
yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang
diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional
yang berkeadilan serta pertimbangan keuangan pusat dan daerah. Salah satu
tujuan dari otonomi daerah adalah memberi kesempatan daerah untuk mengatur dan
mengurus daerahnya sendiri. Dengan kesempatan itu, maka tiap masyarakat dalam
daerah tersebut berhak untuk memimpin sendiri daerahnya. Orang-orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin
tidak secara langsung menjadi pemimpin. Mereka mengikuti rangkaian seleksi dan
akan dipilih oleh masyarakat secara langsung pada saat pemilihan kepala daerah
(PILKADA). Dengan diadakannya PILKADA, pemimpin yang terpilih
dapat disesuaikan dengan keinginan masyarakat di daerah tersebut.
Seiring berjalannya
waktu, pemilihan kepala daerah (PILKADA) di Indonesia dewasa ini sudah menjadi
bidang baru yang menarik sejumlah pihak untuk terjun di dalamnya, tidak
terkecuali para selebriti. Beberapa tahun terakhir ini, panggung politik
Indonesia dimeriahkan dengan masuknya beberapa tokoh selebriti yang bersaing
terjun ke dunia politik.
Saat ini, banyak selebriti yang mulai belajar secara khusus mengenai politik atau yang lebih dikenal dengan sebutan “celebrity politic”. Para kandidat
pilkada di beberapa daerah menggunakan selebriti untuk menarik
antusiasme masyarakat dalam memilih mereka sebagai gubernur. Maraknya berita yang masuk ke dalam
masyarakat menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat. Oleh karena itu, hal ini
memicu peneliti untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai tanggapan pemilih
pemula tentang selebriti yang mencalonkan diri menjadi calon gubernur pada
PILKADA DKI 2017 mendatang. Pada penelitian peneliti kali ini difokuskan pada
Ahmad Dhani Prasetyo yang sedang menjadi topik hangat dalam masyarakat.
1.2
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah tanggapan pemilih pemula DKI Jakarta
mengenai selebriti yang terjun ke dunia politik, tanggapan pemilih pemula DKI
Jakarta mengenai mudahnya selebriti memperoleh dukungan dalam dunia politik,
tanggapan pemilih pemula DKI Jakarta mengenai pencalonan diri Ahmad Dhani
sebagai Calon Gubernur pada PILKADA 2017, dan pilihan pemilih pemula DKI
Jakarta apabila Ahmad Dhani menjadi kandidat Calon Gubernur pada PILKADA 2017.
1.3
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dalam melakukan penelitian
ini adalah:
1.
Untuk mengetahui tanggapan pemilih pemula
DKI Jakarta apabila selebriti terjun ke dunia politik.
2.
Untuk mengetahui tanggapan pemilih pemula
DKI Jakarta mengenai mudah atau tidaknya selebriti memperoleh dukungan dalam
dunia politik.
3.
Untuk mengetahui tanggapan pemilih pemula
DKI Jakarta mengenai pencalonan diri Ahmad Dhani sebagai Calon Gubernur pada
PILKADA 2017.
4.
Untuk mengetahui pilihan pemilih pemula
DKI Jakarta apabila Ahmad Dhani menjadi kandidat Calon Gubernur pada PILKADA
2017.
1.4
Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan mampu memberi manfaat, baik manfaat teoritis maupun manfaat
praktis. Adapun manfaat-manfaat tersebut adalah sebagai berikut.
1.4.1
Manfaat
Teoritis
Adapun manfaat teoritis penelitian ini adalah:
1.
Mengetahui tanggapan pemilih pemula DKI
Jakarta mengenai selebriti yang terjun dalam dunia politik.
2.
Mengetahui tanggapan pemilih pemula DKI
Jakarta mengenai Ahmad Dhani yang mencalonkan diri pada PILKADA 2017.
1.4.2
Manfaat
Praktis
Adapun manfaat praktis penelitian ini adalah:
1.
Manfaat bagi Universitas Surya
Manfaat penelitian ini bagi Universitas Surya adalah agar masyarakat
mengetahui bahwa Universitas Surya merupakan kampus berbasis riset.
2. Manfaat bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta
Manfaat penelitian ini bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta adalah mampu
menjadi masukan dalam membantu pemerintah dalam mengambil keputusan kandidat
Calon Gubernur DKI Jakarta pada PILKADA 2017
3. Manfaat bagi penulis
Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah mendapatkan informasi tambahan
terkait tanggapan masyarakat tentang kenaikan Ahmad Dhani naik jadi gubernur.
4.
Manfaat bagi pembaca
Manfaat penelitian ini bagi pembaca adalah
hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi mereka untuk membantu
menentukan pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan.
BAB II PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai
dasar teori yang digunakan sebagai landasan penelitian, metode penelitian dan
prosedur kerja yang digunakan dalam penelitian, serta analisis dan interpretasi
data penelitian yang diperoleh.
2.1
Dasar
Teori
Politik berperan penting dalam
sebuah negara. Politik dan negara memiliki hubungan yang erat dimana tanpa
adanya politik, sebuah negara tidak dapat berjalan dengan seimbang sesuai
dengan faedahnya. Dalam dunia politik, rakyat juga berperan aktif. Peran aktif
rakyat yang dimaksud adalah menyalurkan aspirasi yang ada untuk dapat menunjang
dan membangun politik suatu negara melalui partisipasi politik. Contoh sistem
politik di Indonesia yang menitikberatkan pada kemandirian suatu daerah adalah
dengan adanya pemilihan seorang pemimpin pada setiap daerah seperti Gubernur,
Bupati, atau Walikota. Popularitas menjadi point penting untuk seorang
k\andidat namun harus seimbang dengan faktor-faktor lain seperti political
marketing yang jitu dan pendekatan berbasis daerah.
2.1.1
Politik
Teori politik digunakan untuk memahami
ilmu politik yang terdapat penjelasan ilmu politik dan kaitannya dengan
bagian-bagian ilmu politik lainnya (Maisuri, 2011).
Arti politik menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), yaitu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan,
kebijaksanaan, dan cara bertindak menghadapi atau menangani suatu masalah
mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Pengertian ilmu politik
secara etimologis adalah politik berasal dari bahasa Yunani: politikos,
yang artinya dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Politik
adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang
antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Sedangkan secara terminologi menurut
beberapa ahli, politik (politics) dapat diartikan sebagai (Budiarjo, 2005):
1.
Miriam Budiardjo : “politik adalah
bermacam macam kegiatan dalam suatu sistem politik (negara) yang menyangkut
proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan
itu.”
2.
Ramlan Surbakti : “politik adalah
interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka pembuatan dan
pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang
tinggal dalam suatu wilayah tertentu.”
2.1.1.1
Politik
di Indonesia
Layaknya gula yang sedang dikelilingi semut, seperti itulah media yang
memberitakan politik di Indonesia. Kondisi politik di Indonesia saat ini saling
memperebutkan kekuasaan. Para pejabat tinggi yang memiliki kekuasaan telah
melupakan masyarakat. Setelah memperoleh kursi kekuasaan, para pejabat justru
melupakan janji-janji yang mereka buat (Rosdiana, 2015).
Kondisi politik di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Kinerja pemerintah di Indonesia belum memuaskan
masyarakat Indonesia. Banyak pejabat-pejabat yang mengkorupsi
uang negara. Para pejabat tidak mempunyai tanggung jawab dan kesadaran
membenahi politik di Indonesia (Rosdiana, 2015).
2.1.1.2
Politik
di DKI Jakarta
Pemilihan Umum Gubernur
dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012 diselenggarakan pada Rabu, 11 Juli 2012 dan Kamis, 20 September 2012 untuk memilih Gubernur Jakarta untuk jangka
waktu lima tahun berikutnya. Gubernur petahana Fauzi Bowo yang kembali mencalonkan
diri harus mengikuti babak penentuan (putaran kedua) pada tanggal 20
September. Dari pemilu ini yang menang adalah Jokowi dan Basuki Tjahya Purnama.
Hasil PILKADA DKI
Jakarta 2012 putaran 2 diumumkan pada Sabtu, 29 September 2012. Penetapan
dilakukan sesuai dengan hasil rekapitulasi penghitungan suara di tingkat
provinsi sehari sebelumnya. Pasangan Jokowi-Ahok meraih 2.472.130 (53,82%)
suara, sedangkan Foke-Nara mendapatkan 2.120.815 (46,18%) suara. Dengan selisih
351.315 (7,65%) suara, Ketua KPUD DKI Jakarta Dahliah Umar menyatakan, Pasangan
nomor urut 3, yaitu Jokowi-Ahok meraih suara terbanyak dalam putaran kedua
sehingga Jokowi-Ahok menjadi gubernur dan wakil gubernur pada tahun 2012 (KPU Jakarta,
2012).
2.1.2
Partisipasi
Politik
Menurut Budi Prasetiyo, partisipasi
politik merupakan “bentuk nyata atau implementasi penyelenggaraan kekuasaan
politik yang absah oleh rakyat” (2010:8). Sedangkan menurut Joan M. Nelson (Abdulkarim,2007), partisipasi politik adalah aktivitas
pribadi warga negara yang bertujuan untuk mempengaruhi pembuatan keputusan
pemerintah. Maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi politik merupakan bentuk
nyata penyelenggaraan kekuasaan politik yang bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan.
Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) merupakan salah satu negara demokratis dengan konsep dasar
partisipasi politik yang menyatakan bahwa kedaulatan di tangan rakyat dan
bersama-sama menetapkan tujuan, masa depan masyarakat, serta orang-orang yang
menduduki kursi kekuasaan. Dalam negara demokratis, semakin banyak partisipasi
dari masyarakat, menandakan semakin tinggi pula tingkat partisipasi politik.
Hal ini berarti tanda yang baik karena masyarakat mengikuti dan memahami
masalah politik,serta ingin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik.
Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit partisipasi masyarakat, semakin kurang
baik tingkat partisipasi politiknya. Hal ini dapat menyebabkan kecenderungan
penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa atau pemegang kekuasaan pemerintah (Prasetiyo, 2010).
2.1.2.1
Unsur-unsur
Partisipasi Politik
Partisipasi politik masyarakat dalam kehidupan bernegara berperan penting
sehingga sangat disayangkan sekali apabila masyarakat tidak ikut dalam
partisipasi baik partisipasi aktif maupun pasif. Peran partisipasi politik
adalah menyalurkan aspirasi masyarakat baik berupa tuntutan maupun dukungan
kepada pemerintah. Selain itu partisipasi politik juga berperan untuk
menyatakan kontrol rakyat terhadap kinerja pemerintah. Berikut adalah
unsur-unsur partisipasi politik sebagai mana juga yang telah di jelaskan oleh
Samuel P.Huntington dan Joan M.Nelson dalam bukunya mengenai “Partisipasi
Politik di Negara Berkembang” (1994):
1. Kegiatan-kegiatan akan tetapi tidak sikap-sikap atau perilaku politik
individu yang nyata.
2. Dilakukan oleh warga negara biasa (preman) bukan pejabat yang tengah
menjalankan fungsinya.
3. Kegiatan itu bertujuan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah.
4. Semua kegiatan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pemerintah , tak peduli
apakah kegiatan itu benar-benar mempunyai efek itu, bisa ada dampaknya bisa
juga tidak berdampak.
5. Kegiatan itu bisa bersifat atas kemampuan sendiri (otonom) maupun diarahkan
oleh pihak lain (dimobilisasi).
Namun, unsur-unsur politik secara umum meliputi:
1.
Pemeran: individu atau kelompok dari
rakyat
2.
Bersifat sukarela: artinya berdasarkan
kesadaran dari pemeran, bukan karena paksaan/penentu keputusan berasal dari
luar dirinya. Yang terakhir ini dikenal dengan mobilisasi politik.
3.
Sasaran adalah penguasa/pemerintah.
4.
Cara-cara yang ditempuh dapat berupa;
a.
Legal atau ilegal;
b.
Teroganisasi atau spontan;
c.
Mantap atau sporadis;
d.
Secara damai atau dengan kekerasan;
e.
Efektif atau tidak efektif;
f.
Pentingnya partisipasi politik, antara
lain untuk;
g.
Integrasi nasional;
h.
Pembentukan identitas nasional;
i.
Loyalitas nasional;
j.
Akselerasi keberhasilan pembangunan
nasional.
2.1.2.2
Sarana
Partisipasi Politik
Dalam partisipasi politik, masyarakat memerlukan sarana. Berikut merupakan
sarana partisipasi politik masyarakat.
1. Partai politik
Partai politik merupakan suatu organisasi, partai politik dimaksudkan untuk
mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan
jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana
suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai (Amal,
1996).
Sedangkan menurut KBBI, partai politik merupakan perkumpulan sekumpulan
orang yang seasas, sehaluan, dan setujuan yang didirikan untuk mewujudkan
ideologi politik tertentu.
Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik Bab I pasal
1 ayat 1, partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk
oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan
kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,
masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
Maka, peneliti dapat menyimpulkan bahwa partai politik merupakan sekumpulan
orang yang mempunyai tujuan yang sama di bidang politik.
2.
Media massa
Hubungan antara media massa dengan sistem politik sangat bergantung pada
budaya politik suatu negara. Media massa merupakan salah satu sarana
partisipasi politik karena berfungsi menyebarluaskan ide-ide, buah pikir atau
perasaan seseorang atau sekelompok orang maupun kejadian-kejadian, baik dengan
kata-kata maupun lisan, kepada masyarakat (Prasetiyo. 2010).
Media massa itu sendiri menurut KBBI adalah sarana
dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan
kepada masyarakat luas. Media massa ada 2 jenis, yaitu media massa lisan dan media massa cetak.
Media massa lisan contohnya radio, televisi. Sedangkan media massa cetak adalah
surat kabar, majalah, dan sebagainya.
Media massa cetak disebut juga sebagai pers. Menurut KBBI, pers adalah usaha percetakan dan penerbitan; usaha pengumpulan dan
penyiaran berita; penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, dan radio;
orang yang bergerak dalam penyiaran berita; medium penyiaran berita, seperti
surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film.
Menurut
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pers, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan,
suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk
lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis
saluran yang tersedia.
Maka, media
massa adalah pers dan pers adalah media massa yang berarti sama-sama merupakan
sarana untuk menyampaikan informasi ke masyarakat. Media massa ini berpengaruh penting dalam pembentukan cara berpikir dan berperilaku
politik masyarakat.
3.
Kelompok penekan
Kelompok penekan merupakan sekelompok manusia yang
berbentuk lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas atau kegiatannya memberikan
tekanan kepada pihak penguasa agar keinginannya dapat disetujui oleh pemegang
kekuasaan. Contohnya, Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Nasib Petani, dan
Lembaga Swadaya Masyarakat Penolong Korban Gempa. Pada mulanya, kegiatan
kelompok-kelompok ini biasa-biasa saja, namun perkembangan situasi dan kondisi
mengubahnya menjadi pressure group (Bambang S dan Sugianto, 2007:177). Sedangkan menurut seorang pakar politik, Maurice
Duverger, kelompok penekan adalah “any group or organization which by
persuasion, propaganda, or other means, regulary attempts to influence and
shape the policies of goverment.”.
Biasanya kelompok penekan akan membubarkan diri setelah tujuannya tercapai
atau tidak tercapai. Contoh kelompok penekan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), Organisasi-organisasi sosial keagamaan, Organisasi Kepemudaan,
Organisasi Lingkungan Hidup, Organisasi Pembela Hukum dan HAM, serta Yayasan
atau Badan Hukum lainnya.
Di Jepang juga kelompok penekan (atsuryoku
dantai):
a. Keidanren (Keizai Dantai Rengokai =
Federasi Organisasi Ekonomi Jepang).
b. Rengo (Nihon Roodoo Kumiai Shorengo =
Federasi Serikat Buruh Jepang).
c. Nookyo (Zenkoku Noogyoo Kumiai Chuuookai
= Pusat Organisasi Petani Seluruh Jepang).
4. Kelompok kepentingan
“Kelompok kepentingan merupakan sejumlah orang yang memiliki kesamaan dan
sifat, sikap, kepercayaan dana tau tujuan, yang sepakat mengorganisasikan diri
untuk melindungi dan mencapai tujuan” (Prasetiyo, Budi, 2010:17).
Kelompok kepentingan lebih fokus pada
bagaimana merumuskan kepentingan tertentu kepada pemerintah sehingga pemerintah
menyusun kebijakan yang menampung kepentingan kelompok.
2.1.2.3
Bentuk
Partisipasi Politik
Berpartisipasi dalam politik
tentu tidak terikat hanya pada satu bentuk, melainkan berbagai bentuk yang
dapat mempengaruhinya. Partisipasi masyarakat dalam urusan politik terbagi
menjadi 2 bentuk yaitu partisipasi konvensional dan partisipasi non konvensional.
Partisipasi konvensional adalah bentuk partisipasi melalui pemungutan suara,
kegiatan kampanye, diskusi politik, membentuk dan bergabung dalam kelompok
kepentingan, serta mengadakan komunikasi individual dengan pejabat politik dan
administratif. Sedangkan partisipasi non konvensional adalah segala aktivitas
yang dilakukan oleh anggota masyarakat biasa untuk mempengaruhi hasil keputusan
politik dengan tidak berdasarkan pada norma atau prosedur pemerintahan seperti
demonstrasi, mogok, tindakan kekerasan politik terhadap harta-benda (perusakan,
pengeboman, pembakaran), dan melakukan tindakan kekerasan politik terhadap
manusia (penculikan, pembunuhan). Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
politik dapat membentuk perilaku memilih masyarakat dalam Pemilihan Kepala
Daerah.
2.1.2.4
Rambu-rambu
Partisipasi Politik
Negara
demokrasi mengutamakan rakyat yang berdaulat, untuk itu sudah semestinya rakyat
meyakini dan menjunjung tinggi nilai-nilai kewarganegaraan demokratis,
ketrampilan-ketrampilan kewarganegaraan demokratis dan pengetahuan-pengetahuan
kewarganegaraan demokratis. Semua itu menjadi syarat yang harus dijalani setiap
masyarakat agar dapat berpartisipasi politik secara bertanggungjawab. Menurut
Budi Prasetiyo (2010), dalam
berpartisipasi dalam politik tentu ada rambu - rambu yang harus dijalankan
yaitu:
1.
Partisipasi politik hendaknya dilakukan secara
beradab.
Masyarakat dalam berpartisipasi wajib untuk
berlaku sopan, beradab dan bertanggung jawab.
2.
Mengutamakan penalaran.
Partisipasi politik dalam pelaksanaanya harus
dijalankan berdasarkan pemikiran yang jernih dan logis.
3.
Selalu dalam koridor norma atau patuh norma.
Norma atau aturan digunakan sebagai acuan bagi
masyarakat dalam berpartisipasi di dunia politik. Dalam hal ini, PILKADA
dilaksanakan berdasarkan undang - undang pemerintahan daerah yang berlaku.
2.1.3
Pemilih
Menurut Firmanzah (Efriza, 2012:480)
secara garis besar, pemilih diartikan sebagai semua pihak yang menjadi tujuan
utama para kontestan untuk mereka pengaruhi dan yakinkan agar mendukung dan kemudian
memberikan suaranya kepada kontestan yang bersangkutan. Pemilih dalam hal ini
dapat berupa konstituen maupun masyarakat yang merasa diwakili oleh suatu
ideologi tertentu yang kemudian dimanfaatkan dalam institusi politik seperti
parpol.
2.1.3.1
Persepsi
Pemilih
Variabel-variabel yang mempengaruhi persepsi pemilih adalah
pendapatan (income), ras, jenis
kelamin, umur, status kewarganegaraan, partisipasi sosial, lingkungan sosial,
pendidikan politik, dan publisitas dari partai politik itu sendiri. Berdasarkan
hasil survei Pol-Tracking Institute Desember
2013 mengenai kecenderungan sikap dan perilaku pemilih dalam pemilu legislatif
2014 dengan 2010 sampel masyarakat di seluruh Indonesia, didapatkan data
informasi publik terkait partai politik paling tinggi adalah pemberitaan dari
media massa (46,9%) dibandingkan variabel lain seperti iklan 23%, lingkungan
tempat tinggal 9%, keluarga, dan lain-lain. Artinya, publisitas partai di media
menjadi krusial pembentuk persepsi publik. Apa yang diberitakan media massa terkait
partai cukup menentukan sebagai sumber informasi publik.
2.1.3.2
Perilaku
Pemilih
Perilaku pemilih didasarkan pada faktor
dan alasan yang mempengaruhi seseorang untuk mengikuti pemilu serta pemilihan
kandidat.
Berdasarkan hasil survei Pol-Tracking Institute Desember 2013
mengenai kecenderungan sikap dan perilaku pemilih dalam pemilu legislatif 2014
dengan 2010 sampel masyarakat di seluruh Indonesia, didapatkan data sebagai
berikut.
1.
Sikap partisipasi masyarakat untuk
mengikuti pemilu legislatif masih cukup tinggi yaitu sebanyak 79% dan hanya ada
21% pemilih yang berpotensi golongan putih.
2.
Kecenderungan masyarakat untuk memilih
lebih besar jika melalui jalur independen yaitu sebesar 69% dibandingkan partai
12%. Hal ini membuktikan bahwa figur independen cenderung lebih tinggi
dibandingkan pilihan publik terhadap partai yang cenderung fluktuatif. Jika
memlih partai, hal ini dikarenakan citra partai politik (kepedulian partai
terhadap masyarakat, tidak korupsi dan transparan), visi/misi program partai
serta hasil kinerja partai dibandingkan karena tokoh yang diidolakan.
3.
Latar belakang calon legislatif partai
juga mempengaruhi sikap pemilih untuk memilih pemimpin. Pemimpin baru dan muda
disetujui oleh pemilih sedikit lebih banyak dibandingkan caleg berlatar belakang
politis/pengurus partai (64,8%), purnawirawan (61,8%), atau pejabat/birokrat
(61,9%). Namun, caleg dengan latar belakang artis yang cenderung lebih populer
dari latar belakang lainnya tidak banyak diminati pemilih (18,7%).
2.1.4
Perilaku
Politik
Perilaku politik berawal dari sebuah
pemahaman dimana dasar dari kehidupan politik bukan hanya berada pada
lembaga-lembaga formal dan kekuasaan yang mengikutinya namun sebuah tindakan
dan perilaku politik juga mempengaruhi kehidupan politik. (Kurniadi Putra,
2013).
Perilaku politik adalah suatu kegiatan
yang berhubungan langsung dengan proses politik, baik dalam pembuatan keputusan
politik sampai pelaksanaan aktivitas politik secara periodik. (Ramlan Surbakti,
1999).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku politik adalah ( Ramlan Surbakti, 1999):
1.
Lingkungan sosial politik yang tidak
langsung, dalam hal ini meliputi sistem politik, sistem ekonomi, budaya dan
media massa.
2.
Lingkungan sosial langsung, dalam hal ini
meliputi keluarga, agama, sekolah dan berbagai lembaga yang menjadi sebuah
media pergaulan.
3.
Struktur kepribadian, dalam hal ini
meliputi kepentingan , penyesuaian, eksternalisasi dan pertahanan diri.
4.
Situasi lingkungan sosial politik, dalam
hal ini meliputi cuaca, keadaan keluarga, keadaan ruang, kehadiran orang lain,
suasana kelompok, dan sebagainya.
Perbedaan faktor yang ada pada
masing-masing individu akan mempengaruhi perubahan perilaku politik mereka.
2.1.5
Pendekatan
Rasional
Beberapa pemilih dapat mengubah pilihan politiknya dari
yang pilihan satu ke yang lainnya tergantung dari peristiwa atau kejadian
politik yang terjadi disekitar mereka. Dalam suatu pendekatan rasional,
ada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih seperti prosedur dan
aturan main dalam pilkada. Hal ini dapat meliputi aturan main yang memberikan
keuntungan pada calon tertentu yang merupakan salah satu strategi yang disusun
oleh calon untuk memenangkan pilkada. Begitu juga dengan adanya imbalan yang
diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu baik dalam hal ekonomi maupun hal
lainnya.
Pendekatan rasional menegaskan agar para pemilih dapat
bersikap secara rasional sebelum menentukan pilihannya, memiliki suatu motivasi
dan prinsip yang kuat, memiliki informasi dan pengetahuan yang luas serta dapat
menilai calon Kepala Daerah dengan penilaian yang valid dan bukan hanya untuk
kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan bersama (umum) (Samuel J. Eldersveld dalam Riswandha Imawan. 1993).
2.1.6
Selebriti
Selebriti
menurut KBBI adalah orang yang terkenal atau
masyhur (biasanya tentang artis). Selebritis banyak digunakan untuk
mengembangkan citra positif produk baru atau mengubah citra produk yang sudah
ada karena untuk melakukan hal ini selebritis mempunyai kekuatan karena mereka
menjadi idola banyak orang (Wiryawan dan Pratiwi, 2009).
2.1.6.1
Selebriti
Terjun dalam Dunia Politik
Fenomena terpilihnya selebriti dalam
panggung politik baik di Indonesia maupun di negara-negara demokrasi lainnya
memperlihatkan kekuatan selebriti yang telah mampu untuk menggalang massa (vote
getter) dan dipergunakan untuk menarik masyarakat agar berperan serta dalam
politik. Selebriti dijadikan produk politik untuk ditawarkan ke pasar pemilih
melalui strategi political marketing bagi para artis untuk masuk dalam
bursa politik demi menciptakan sebuah popularitas baru di dunia yang berbeda.
Banyak artis-artis yang dikenal oleh masyarakat datang mengunjungi berbagai
daerah untuk melakukan kampanye bagi masing-masing partainya. Namun, muncul
pula stereotip atau pandangan negatif artis yang hanya menjadi vote getter
dalam pesta demokrasi.
Motivasi selebriti masuk dunia politik
menurut David Canon dalam Ators, Athletes, and Astronauts (1999) menyatakan
bahwa selebriti sebagai politisi amatir dapat dikelompokkan kedalam 2 kategori
yang berbeda, mengacu pada motivasinya yakni, ambitious amateurs dan experience-seeking
amateurs (Gintings, 2008:57). Ambitious amateurs adalah mereka yang secara serius mengupayakan
segala daya untuk memenangkan kursi. Sementara yang lainnya,
experience-seeking amateurs memutuskan ikut pemilu dengan berbagai alasan
untuk kepentingan pribadi. Hai ini termasuk uji coba dalam mencari kesenangan
dan lain-lain (Gintings, 2008).
2.1.6.2
Pengaruh
Popularitas terhadap Partisipasi Selebriti dalam Dunia Politik
Partai meminang selebriti karena popularitas yang diyakini dapat
menjadi magnet bagi pemilih yang terpapar imbas kultur selebriti. Partai
politik meyakini, industri hiburan memberikan pengaruh besar bagi terciptanya
penggemar yang fanatik akan idolanya dan siap menjadi pemilih yang berpotensial
tinggi untuk memilih sang idola yang ikut serta dalam pemilihan. Masih terkait
dengan harapan yang sangat besar pada efek popularitas pola perekrutan
selebriti menjadi jalan pintas bagi partai politik dan selebriti yang cukup
mapan diharapkan memperoleh cukup besar perolehan kursi atau menaklukan
daerah-daerah bukan basis karena tidak semua selebriti diterima dan mudah
memiliki pendekatan emosional terhadap daerah pemilihan. Namun instanisasi ini
membuat kecemburuan internal karena selebriti inilah yang mendapat hak istimewa
sehingga menimbulkan suasana kurang kondusif dari calon yang bukan dari
kalangan selebriti (Gintings, 2008).
Peluang untuk mendapatkan dukungan yang besar dari pemilih
selayaknya ditentukan oleh popularitas dari partai politik itu sendiri.
Popularitas partai politik ditentukan dari berbagai aspek. Mulai dari nama
besar pendiri, kontribusinya secara langsung kepada para pemilih pendidikan dan
pengalaman politik terhadap masyarakat baik pemilih maupun bukan pemilihnya,
hingga orang-orang yang menggerakkannya. Kunci untuk memenangkan popularitas
ini terletak dari kemampuan partai politik dalam memahami cara berpikir
calon-calon pemilihnya, bukan didasarkan pada kemampuan untuk memahami apa yang
diinginkan oleh calon pemilihnya. Sejauh manakah kontribusi mereka dalam
percaturan politik ditanah air dan sejauh manakah pula partai-partai politik
memanfaatkannya. Keikutsertaan artis dalam politik semakin meningkat seiring
dengan berubahnya susunan politik di Indonesia mulai dari masa orde baru sampai
pasca orde baru. Pada pemilihan umum tahun 2014, terdapat peningkatan dalam
partisipasi artis dalam politik. Jumlah keikutsertaan artis ini hampir merata
di semua partai yang lolos menuju Pemilihan Umum 2014. Berikut diagram jumlah
partisipasi artis dalam partai politik sebagai calon anggota DPR pada periode
2014-2019 (Choiriyati,2011:128-142).
Diagram 2.1 Data Jumlah Politisi Artis dalam Partai Politik
sebagai Calon Anggota DPR tahun 2014 / 2019
2.1.6.3
Kapabilitas
Kepemimpinan Selebriti
Kepribadian yang sangat
penting yang harus dimiliki seorang pemimpin diantaranya: prestasi, konsisten,
inisiatif, percaya diri, bertanggungjawab, kooperatif, toleran, berpengaruh,
memiliki jiwa sosial, dapat mengarahkan, memiliki motivasi yang tinggi,
memiliki integritas, kemampuan kognitif, mengetahui tugas dan masalah, dan
terbuka (Peter ,2009). Kepribadian seorang pemimpin itu sendiri sangat
berpengaruh terhadap kapabilitas seseorang yang akan mencerminkan bagaimana
kualitas kepemimpinannya. Pemimpin yang terbiasa memimpin-pun belum tentu
benar-benar dapat memimpin dan menuntun rakyatnya. Seorang selebriti bisa
memimpin suatu rakyat apabila suaranya dapat menarik banyak orang dan memiliki
popularitas tinggi. Selebriti dengan kemampuan yang kurang dan memiliki
popularitas yang rendah tidak dengan mudah memimpin suatu rakyat.
2.2
Metode
Penelitian dan Prosedur Kerja
Peneliti menggunakan
metode-metode yang dapat menunjang penelitian dalam rangka mencapai tujuan yang
sudah ditentukan dari a wal. Metode-metode yang digunakan tidak dapat seimbang
tanpa peran dari variabel penelitian, objek dan subjek penelitian, populasi dan
sampel, instrumen penelitian, teknik analisis data, dan prosedur pelaksanaan
penelitian.
2.2.1
Metode
Penelitian
Metode penelitian adalah
cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
(Sugiyono, 2011:2). Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian
ini, antara lain:
1.
Metode
Penelitian Kuantitatif
Penelitian yang dilakukan
oleh penulis menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif adalah
penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner
sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun dan Effendi, 1989:3).
2.
Metode
Penelitian Survei
Metode Survei sangat
berhubungan dengan metode kuantitatif. Pada penelitian kali ini, metode survei
juga digunakan untuk menemukan jawaban atas penelitian yang dilakukan. Metode
survei menurut Sugiyono (2011:6) digunakan untuk mendapatkan data dari suatu
tempat yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam
pengumpulan, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, tes, wawancara terstruktur
dan sebagainya. Namun, pada penelitian kali ini, metode survei yang
dipakai adalah dengan mengisi kuesioner, baik secara online maupun
secara tertulis.
2.2.2
Variabel
Penelitian
Variabel pada
penelitian ini adalah respon pemilih pemula terhadap pencalonan selebriti
sebagai calon Gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Berdasarkan variabel penelitian
ini akan diketahui respon pemilih pemula melalui metode survei yakni pembagian
kuesioner kepada siswa-siswi SMA/SMK.
2.2.3
Objek
dan Subjek Penelitian
Objek penelitian adalah sesuatu yang menjadi pemusatan pada kegiatan
penelitian atau dengan kata lain segala sesuatu yang menjadi sasaran penelitian
(Sugiyono, 2002). Dalam penelitian ini, objek penelitiannya adalah selebriti
yang terjun pada dunia politik dengan fokus utama, yaitu pencalonan diri
Ahmad Dhani Prasetyo sebagai kandidat Calon Gubernur DKI Jakarta 2017.
Subjek penelitian merupakan sesuatu yang
sangat penting kedudukannya di dalam penelitian dapat berupa benda, hal atau
orang (Arikunto, 2007). Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah pemilih
pemula atau siswa/siswi di tingkat SMA/SMK yang tersebar di 5 wilayah DKI
Jakarta. Peneliti
mengunjungi 30 sekolah di DKI Jakarta, namun hanya 20 sekolah yang memberi
tanggapan. Berikut merupakan data nama sekolah yang mengembalikan
kuesioner beserta dengan jawabannya.
1.
Wilayah
Jakarta Utara
a.
SMA
Methodist
b.
SMA
BPK Penabur 6
c.
SMA
BPK Penabur 5
d.
SMA
Dharma Suci
e.
SMK
Negeri 56
2.
Wilayah
Jakarta Barat
a.
SMA
Kristoforus 1
b.
SMK
Yadika 2
c.
SMA
Bunda Hati Kudus
d.
SMA
Katolik Sang Timur
e.
SMA
BPK Penabur 1
f.
SMA
Regina Pacis
3.
Wilayah
Jakarta Selatan
a.
SMA
Kolese Gonzaga
b.
Labs School
c.
SMK
Tarakanika
d.
SMA
Dian Harapan
4.
Wilayah
Jakarta Timur
a.
SMA
Negeri 54
b.
SMA
Santo Antonius
5.
Wilayah
Jakarta Pusat
a.
SMA
Santa Ursula
b.
SMA
Taman Siswa 1
c.
SMA
Kristen Ketapang 1
2.2.4
Populasi
dan Sampel
Populasi adalah total
dari keseluruhan objek atau subjek penelitian yang mempunyai satuan untuk
dianalisis, hal ini digunakan untuk memperhatikan kuantitas dan karakteristik
tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, diolah dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah pemilih
pemula yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta. Untuk menentukan besarnya
sampel yang memiliki subjek besar atau lebih dari 100, dapat diambil
10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2006). Teknik penarikan sampel yang
digunakan peneliti adalah purpossive sampling di mana penelitian ini tidak
dilakukan pada seluruh populasi, tapi terfokus pada target. Purposive sampling
merupakan penentuan sampel yang mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu
yang telah dibuat terhadap objek yang sesuai dengan tujuan penelitian
(Sugiyono, 2002).
2.2.5
Instrumen
Penelitian
Dalam penelitian ini, untuk
memperoleh data yang menunjang tujuan penelitian digunakan beberapa teknik
pengumpulan data seperti teknik angket (kuesioner), teknik observasi, studi
dokumentasi dan studi kepustakaan. Secara ringkas teknik pengumpulan data
tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
2.2.5.1 Kuesioner
Pengumpulan data dilakukan dengan cara
menyebarkan kuesioner atau angket secara manual ataupun online yang
berisikan pertanyaan-pertanyaan secara tertulis. Dengan alat pengumpulan data
ini diperoleh data yang cukup signifikan dan dapat memberikan gambaran secara
menyeluruh dari populasi yang ada sehingga mampu memberikan suatu kesimpulan
yang valid.
Jenis kuesioner yang digunakan dalam
penelitian ini, jika dipandang dari cara menjawabnya merupakan kuesioner
gabungan yakni, tertutup (terstruktur) maupun terbuka, dimana jawaban sudah
diberikan sehingga responden dapat memilih sesuai dengan keadaan serta adanya
beberapa pertanyaan yang memberi kesempatan responden untuk menjawab sendiri
dengan kalimatnya. Apabila dilihat dari sudut pandang jawaban yang diberikan
responden yaitu menggunakan kuesioner tidak langsung, dimana responden
menggunakan pendapatnya untuk menjawab tentang orang lain. Selanjutnya jika
dipandang dari bentuknya, maka kuesioner dalam penelitian ini berbentuk
gabungan antara checklist, pilihan ganda (tertutup) dan terbuka. Dengan
kuesioner ini diharapkan dapat mengungkapkan pengetahuan, data, nilai,
referensi, sikap, keyakinan, keadaan sosial, perasaan dan persepsi.
2.2.5.2 Observasi
Observasi merupakan suatu teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati langsung pada objek
kajian. Menurut Hasan (2002:86) Observasi adalah pemilihan, pengubahan,
pencatatan, dan pengodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan
dengan organisasi, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik observasi sebagai berikut.
1.
Observasi
Non-Partisipan
Apabila observer tidak ikut berpartisipasi
dalam kegiatan.
2.
Observasi
Sistematis
Observasi sistematis
sering disebut juga observasi berkerangka atau observasi berstruktur. Ciri pokok
observasi sistematik adalah adanya kerangka yang memuat faktor-faktor yang
telah diatur kategorinya.
3.
Observasi
Eksperimental
Observasi yang dilakukan
dimana observer mengadakan pengendalian unsur-unsur penting dalam situasi
sehingga situasinya dapat diatur sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat
dikendalikan untuk menghindari atau mengurangi timbulnya faktor-faktor yang
secara tidak diharapkan mempengaruhi situasi penelitian.
2.2.5.3 Studi Pustaka
Menurut Martono (2011:
97) studi pustaka dilakukan untuk memperkaya pengetahuan mengenai berbagai
konsep yang akan digunakan sebagai dasar atau pedoman dalam proses penelitian.
Acuan untuk menambah kelengkapan dari data yang telah ada, peneliti mencari
buku-buku dokumen atau arsip lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian.
Studi kepustakaan ini digunakan untuk mendukung data yang bersifat teoritis.
Dalam hal ini berupa informasi tertulis atau pendapat para ahli tentang kajian,
informasi, serta data yang dapat melengkapi objek penelitian. Hal ini penting
untuk memperluas wawasan peneliti dan pembaca.
2.2.6
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data menurut Bogdan (Sugiyono, 2009:244)
adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah
dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses reduksi data, penyajian
data, dan penarikan simpulan.
1. Reduksi
Teknik reduksi dilakukan dengan merangkum dan memilih
hal-hal yang penting untuk digunakan dalam laporan. Pada tahap ini, peneliti
melakukan pemilihan informasi antara yang relevan dan yang tidak relevan dengan
penelitian. Setelah data direduksi, maka data akan semakin mengarah ke inti
permasalahan sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai objek
penelitian.
2. Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk uraian penjelasan dari hasil
penelitian dengan tambahan keterangan dalam bentuk tabel dan gambar.
3. Penarikan Kesimpulan
Tahap akhir pengolahan
data adalah penarikan kesimpulan. Setelah semua data yang dikumpulkan telah
dipahami dan disajikan dengan baik dalam laporan, maka ditariklah kesimpulan
mengenai hasil dari penelitian ini.
2.2.7
Prosedur
Pelaksanaan Penelitian
Adapun
prosedur pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut.
|
Tanggal
|
Keterangan
|
|
30 Maret 2016
|
Pemberian
tugas oleh Bapak Aryaning Arya Kresna,
S.Fil. M.Hum (selaku dosen pembimbing)
dan penentuan topik, yaitu “Tanggapan Pemilih
Pemula Terhadap Selebriti yang Mencalonkan Diri Sebagai Calon Gubernur DKI
Jakarta pada PILKADA 2017”
|
|
2 April 2016
|
Penyusunan
kuesioner dengan 16 pertanyaan
|
|
4 April 2016
|
Konsultasi
pertanyaan kuesioner pada dosen pembimbing
|
|
8 April 2016 – 16 Mei 2016
|
Penyebaran
kuesioner ke SMA/SMK di 5 wilayah DKI Jakarta
|
|
8 April 2016 – 24 Mei 2016
|
Perekapan
data kuesioner dan pada akhirnya terdapat 963 kuesioner dengan data valid
|
|
25 Mei 2016
|
Presentasi
hasil penyebaran kuesioner di hadapan dosen pembimbing
|
|
26 Mei 2016 – 14 Juni 2016
|
Pembuatan laporan penelitian
|
|
1 Juni 2016
|
Konsultasi
laporan penelitian kepada dosen pembimbing dan
Bapak Leo Alexander
Tambunan, S.E., M.M.
|
|
8 Juni 2016
|
Konsultasi
laporan penelitian kepada dosen pembimbing.
|
|
15 Juni 2016
|
Pengumpulan
laporan penelitian kepada dosen pembimbing
|
2.3
Analisis
dan Interpretasi Data
Analisa data
adalah proses penyederhanaan suatu data dari kompleks menjadi bentuk yang lebih
mudah dibaca dan diinterpretasikan. Data awal yang masih bersifat mentah belum
dapat diambil menjadi sebuah kesimpulan untuk menjelaskan tentang objek kajian
penelitian, oleh karena itu dilakukan analisis data, yaitu dengan cara mengkaji
data yang ada sebagai bahan pertimbangan bagi penarikan kesimpulan.
2.3.1
Gambaran
Umum Subjek Penelitian
Subjek yang peneliti pilih
dalam penelitian ini adalah pemilih pemula DKI Jakarta. Pemilih pemula yang
dimaksud adalah warga yang berdomisili di DKI Jakarta, namun belum pernah
mengikuti PILKADA pada tahun-tahun sebelumnya dimana diharapkan masih berpikiran
fresh terhadap PILKADA Peneliti memilih responden yang berumur sekitar
17 tahun (kelas 10-11) karena mereka sebentar lagi akan memiliki hak untuk
melakukan pemilihan dan mengetahui informasi dari berbagai macam pihak/media
sosial.
2.3.2
Hasil
Penelitian
Berdasarkan
hasil survei kepada 963 responden, didapatkan hasil sebagai berikut.
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Laki-laki
|
374
|
38,84%
|
|
Perempuan
|
589
|
61,16%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 38,84% responden berjenis kelamin
laki-laki dan 61,16% berjenis kelamin perempuan.
|
Tahun Lahir
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
1996
|
3
|
0,31%
|
|
1997
|
32
|
3,32%
|
|
1998
|
143
|
14,85%
|
|
1999
|
671
|
69,68%
|
|
2000
|
114
|
11,84%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden adalah kelas 2 SMA,
sehingga dapat diketahui 0,31% responden lahir pada tahun 1996, 3,32% responden
lahir pada tahun 1997, 14,85% responden lahir pada tahun 1998, 69,68% responden
lahir pada tahun 1999, dan 11,84% responden lahir pada tahun 2000.
|
Domisili
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Jakarta Utara
|
228
|
23,68%
|
|
Jakarta Barat
|
208
|
21,60%
|
|
Jakarta Selatan
|
177
|
18,38%
|
|
Jakarta Timur
|
166
|
17,24%
|
|
Jakarta Pusat
|
184
|
19,11%
|
Berdasarkan hasil kuesioner di
atas yang disebar ke sekolah-sekolah di 5 wilayah di Jakarta dapat diketahui
bahwa terdapat 23,68% responden dari Jakarta Utara, 21,60% responden dari
Jakarta Barat, 18,38% responden dari Jakarta Selatan, 17,24% responden dari
Jakarta Timur, dan 19,11% responden dari Jakarta Pusat.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Mengetahui
|
881
|
91,48%
|
|
Tidak mengetahui
|
82
|
8,52%
|
Dari
hasil kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 91,48% responden mengetahui
mengenai adanya PILKADA 2017, dan 8,52% sisanya tidak mengetahui mengenai
adanya PILKADA 2017.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya
|
848
|
88,06%
|
|
Tidak
|
115
|
11,94%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 88,06% responden ingin berpartisipasi
dalam PILKADA 2017 dan 11,94 sisanya tidak ingin berpartisipasi dalam PILKADA
2017.
|
Karakter
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Mengayomi
|
511
|
53,06%
|
|
Tegas dan adil
|
810
|
84,11%
|
|
Jujur dan terbuka
|
776
|
80,58%
|
|
Bertanggung jawab
|
774
|
80,37%
|
|
Bertindak cepat dan benar
|
463
|
48,08%
|
|
Sederhana
|
111
|
11,53%
|
|
Otoriter
|
21
|
2,18%
|
|
Sehat jasmani dan rohani
|
114
|
11,84%
|
|
Berintegritas
|
213
|
22,12%
|
|
Populer
|
9
|
0,93%
|
Dari 10
karakter Gubernur yang diinginkan responden yang tercatat pada tabel diatas,
hanya diambil 4 tertinggi dalam persentase, yaitu mengayomi 53,06% responden,
tegas dan adil 84,11% responden, jujur dan terbuka 80,58% responden, dan
bertanggung jawab 80,37% responden.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Jalur independen
|
606
|
76,64%
|
|
Jalur partai
|
154
|
23,36%
|
Berdasarkan
hasil kuesioner di atas dapat diketahui bahwa sebanyak 76,64% responden ingin
pemilihan calon Gubernur dilakukan secara jalur independen dan sebanyak 23,36%
responden dilakukan secara jalur partai.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (berpengaruh)
|
107
|
11,11%
|
|
Tidak (tidak berpengaruh)
|
856
|
88,89%
|
Berdasarkan hasil kuesioner di
atas dapat diketahui bahwa sebanyak 88,89% responden mengatakan bahwa Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) Calon Gubernur tidak berpengaruh pada politik dan 11,11%
mengatakan berpengaruh. Berdasarkan data 11,11% responden yang mengatakan SARA
Calon Gubernur berpengaruh, didapatkan data sebagai berikut.
|
Suku
|
Persentase
|
|
Suku Jawa
|
64,38%
|
|
Suku Betawi
|
12,33%
|
|
Suku Sunda
|
1,37%
|
|
Suku Batak
|
6,85%
|
|
Suku Tionghua
|
6,85%
|
|
Bebas dan lain-lain
|
8,22%
|
|
Agama
|
Persentase
|
|
Islam
|
81,39%
|
|
Katolik
|
4,82%
|
|
Kristen
|
7,23%
|
|
Hindu
|
2,41%
|
|
Buddha
|
3,61%
|
|
Ras
|
Persentase
|
|
Melayu
|
5,13%
|
|
Mongoloid
|
41,03%
|
|
Kaukasoid
|
2,56%
|
|
Bebas
|
51,28%
|
|
Golongan
|
Persentase
|
|
Sederhana
|
28,85%
|
|
Menengah atas
|
50,00%
|
|
Menengah Bawah
|
1,92%
|
|
Bebas
|
19,23%
|
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (penting)
|
867
|
90,03%
|
|
Tidak (tidak penting)
|
96
|
9,97%
|
Dari hasil kuesioner
di atas dapat diketahui bahwa 90,03% responden
menjawab ya mengenai pengetahuan politik calon Gubernur dan 9,97% sisanya
menjawab tidak penting mengenai pengetahuan politik calon Gubernur.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (berpengaruh)
|
468
|
48,60%
|
|
Tidak (tidak berpengaruh)
|
495
|
51,40%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 48,60% responden menjawab bahwa profesi
berpengaruh untuk menjadi calon Gubernur dan 51,40% sisanya menjawab bahwa
profesi tidak berpengaruh untuk menjadi calon Gubernur.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Tidak setuju
|
715
|
74,25%
|
|
Setuju
|
244
|
25,34%
|
|
Sangat setuju
|
4
|
0,42%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 74,25% responden memilih tidak setuju
selebriti terjun dalam dunia politik. 25,34% responden memilih setuju selebriti
terjun dalam dunia politik, dan 0,42% responden sangat setuju selebriti terjun
dalam dunia politik.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (mudah)
|
358
|
37,18%
|
|
Tidak (tidak mudah)
|
605
|
62,82%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 37,18% responden menjawab mudah
mengenai selebriti memperoleh dukungan di dunia politik. 62,82% responden
menjawab tidak mudah mengenai selebriti memperoleh dukungan di dunia politik.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (mengetahui)
|
850
|
88,27%
|
|
Tidak
|
113
|
11,73%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 88,27% responden mengetahui mengenai
isu pencalonan diri Ahmad Dhani dan 11,73% sisanya tidak mengetahui mengenai
isu pencalonan diri Ahmad Dhani.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Setuju
|
72
|
7,48%
|
|
Tidak setuju
|
891
|
92,52%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 7,48% responden setuju mengenai majunya
Ahmad Dhani pada PILKADA 2017 dan 92,52% responden tidak setuju mengenai
majunya Ahmad Dhani pada PILKADA 2017.
|
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Ya (akan memilih)
|
36
|
3,74%
|
|
Tidak (tidak akan memilih)
|
927
|
96,26%
|
Dari hasil
kuesioner di atas dapat diketahui bahwa 3,74% responden akan memilih jika Ahmad
Dhani menjadi kandidat calon Gubernur PILKADA 2017 dan 96,26% responden tidak
akan memilih jika Ahmad
Dhani menjadi kandidat calon Gubernur PILKADA 2017.
2.3.3
Analisis
Data
Penyebaran
wilayah responden yang dilakukan oleh peneliti adalah di 5 wilayah Jakarta. Berdasarkan hasil survei, dapat diketahui bahwa terdapat 23,68% responden dari Jakarta
Utara, 21,60% responden dari Jakarta Barat, 18,38% responden dari Jakarta
Selatan, 17,24% responden dari Jakarta Timur, dan 19,11% responden dari Jakarta
Pusat. Persentase responden Jakarta Timur dan Jakarta Selatan lebih sedikit
dibandingkan 3 wilayah lain dikarenakan daerah
Jakarta Timur dan Jakarta Selatan lebih sulit untuk dijangkau oleh peneliti.
Walaupun begitu, penyebaran wilayah responden sudah cukup tersebar merata
karena persentase responden di setiap wilayah tidak berbeda jauh, yaitu di
antara 17 - 23%. Sehingga data yang diperoleh dapat mewakili
suara pemilih pemula di DKI Jakarta.
Usia responden berkisar antara 16 - 20 tahun dan mayoritas berusia 17
tahun. Dari hasil survei diperoleh data bahwa 0,31%
responden lahir pada tahun 1996, 3,32% responden lahir pada tahun 1997, 14,85%
responden lahir pada tahun 1998, 69,68% responden lahir pada tahun 1999, dan
11,84% responden lahir pada tahun 2000. Persentase tertinggi yaitu responden
yang lahir tahun 1999. Hal ini dikarenakan penyebaran kuesioner
ditujukan pada pemilih pemula dan calon pemilih pemula pada PILKADA DKI Jakarta
2017. Dan syarat penduduk DKI Jakarta dapat memberikan suara pada PILKADA
adalah berusia 17 tahun baru memperoleh hak untuk
memilih. Berdasarkan referensi yang ada, umur juga merupakan salah satu faktor
penentu persepsi dalam Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA).
Pemilihan Kepala Daerah
(PILKADA) di Indonesia diadakan untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala
daerah secara langsung, bebas, rahasia, jujur, dan adil serta diadakan setiap 5
tahun sekali. PILKADA DKI Jakarta terakhir kali dilaksanakan pada 11 Juli 2012
dan 20 September 2012. Pada PILKADA tersebut, pasangan Jokowi dan Ahok
memenangkan PILKADA dengan 53,82% suara yang diperoleh (KPU Jakarta, 2012).
Untuk PILKADA DKI Jakarta berikutnya akan diadakan pada tahun 2017.
PILKADA DKI Jakarta 2017
sudah cukup diketahui oleh para pemilih pemula. Hal ini ditunjukkan dengan
91,48% responden mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui adanya PILKADA DKI
Jakarta 2017 dan hanya 8,52% yang tidak mengetahuinya. Selain itu, sebanyak
88,06% responden berkeinginan untuk berpartisipasi dalam PILKADA DKI Jakarta
2017, tetapi 11,94% responden tidak berkeinginan untuk berpartisipasi dalam
PILKADA DKI Jakarta 2017. Sehingga dapat dikatakan partisipasi politik oleh
para pemilih pemula masih kurang baik. Hal ini
memberikan tanda yang kurang baik karena masyarakat kurang mengikuti dan
memahami masalah politik, serta kurang ingin melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan politik.
Jakarta
terdiri dari kumpulan orang-orang yang berbeda suku, agama, ras, dan golongan
yang biasa disebut dengan SARA. Perbedaan-perbedaan ini seharusnya tidak
menjadi halangan bagi masyarakat Indonesia yang pluralisme karena Indonesia
memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap
satu jua. Berdasarkan hasil survei, terbukti bahwa 88,89% responden mengatakan
bahwa SARA calon gubernur tidak mempengaruhi. Namun, terdapat 11,11% responden
berkata bahwa SARA calon gubernur mempengaruhi.
Dari 11,11% responden, jumlah persentase terbesar
yang mereka katakan cocok adalah suku Jawa 64,38%, agama Islam 81,39%, ras
Bebas 51,28%, dan golongan menengah atas 28,85%. Hal yang mempengaruhi pilihan
11,11% responden dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti lingkungan
responden (pada penelitian ini adalah sekolah negeri).
Tidak hanya kandidat yang berasal dari ranah
politik saja yang bisa berperan serta dalam PILKADA. Kandidat yang berasal dari
luar dunia politik-pun bisa, seperti guru besar, ahli agama, dan sekarang ini
banyak kandidat yang berlatar belakang seni bisa bersaing di ranah politik,
mayoritas dari mereka belajar secara tidak resmi mengenai politik. Profesi
sebelum menjadi calon gubernur mempengaruhi apakah tokoh tersebut dipilih atau
tidak. Berbeda pengalaman dan pandangan mengenai politik itu sendiri antara
kandidat dengan latar belakang politik dengan yang tidak. Berdasarkan hasil
kuesioner, didapatkan 51,40% dari responden mengatakan bahwa profesi sebelum
menjadi calon gubernur penting, sedangkan 48,60% dari responden mengatakan
tidak. Tidak adanya perbedaan signifikan antara responden yang menjawab ya
dengan tidak sehingga dapat disimpulkan bahwa profesi sebelum menjadi calon
gubernur seimbang namun lebih condong ke arah penting dalam kehidupan
berpolitik.
Selebriti sekarang ini tidak hanya
berkarir di dunia hiburan saja namun mereka sekarang mulai berkarir di dunia
politik sebagai contoh Eko Patrio, Dede Yusuf, menurut tanggapan responden 74%
tidak setuju apabila selebriti terjun dalam dunia politik karena responden
beranggapan bahwa selebriti belum memiliki pengalaman seperti calon-calon lain
yang sudah lebih dulu terjun dalam dunia politik sedangkan 25% responden
mengatakan setuju dan 1% responden mengatakan sangat setuju apabila selebriti
terjun dalam dunia politik.
Banyak faktor
mempengaruhi seorang calon dalam mendapatkan/tidak mendapatkan dukungan.
Beberapa faktornya adalah ketenaran dan kekuasaan. Pendapat responden
yang menyatakan setuju bahwa selebriti yang terjun dalam dunia politik mudah
mendapatkan dukungan sebesar 37,18%. Alasan yang dinyatakan karena mereka
memiliki banyak fans yang dapat dijadikan pendukung dan memiliki ketenaran.
Sedangkan untuk responden yang menyatakan tidak setuju bahwa selebriti mudah
mendapat dukungan sebesar 62,82%. Hal ini dikarenakan selebriti tidak mempunyai
pengalaman politik. dan masyarakat akan memilih secara objektif pemimpin mana
yang cocok.
Diagram 2.8 Persentase Tanggapan Responden mengenai Selebriti
dalam Memperoleh Dukungan di Dunia Politik
Fungsi
media massa adalah menyebarluaskan dan menginformasikan para figur yang akan
menjadi calon dalam PILKADA nanti. Hal ini dapat dilihat bahwa 88,27% responden
mengetahui isu Ahmad Dhani mencalonkan diri pada PILKADA.
Hubungan yang
dapat kita tarik adalah bahwa selebriti dengan mudah diketahui dalam
masyarakat karena selebriti banyak berhubungan dengan media massa. Kehidupannya
tidak terlepas dari pengaruh media massa. Namun, sebagian besar responden tidak
setuju dengan majunya Ahmad Dhani dalam PILKADA nanti, yaitu sebanyak
95,52% responden. Alasan yang mendasar bahwa mereka tidak memilih Ahmad
Dhani, adalah karena Ahmad Dhani tidak berpengalaman dalam politik, tidak cocok
jika menjadi calon gubernur, lebih baik menjadi musisi/artis dan hanya
mencari sensasi dalam dunia politk. Sedangkan 4,48% setuju dengan majunya Ahmad Dhani dengan alasan bahwa
setiap orang punya hak untuk menjadi calon Gubernur.
BAB III PEN
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil survei dan pembahasan,
dapat disimpulkan bahwa:
1.
Pemilih pemula sebanyak 74,25% tidak
setuju, 25,34% setuju dan 0,42% sangat setuju jika selebriti terjun dalam dunia
politik.
2.
Pemilih pemula yang mengatakan bahwa
selebriti lebih mudah memperoleh dukungan dalam politik adalah 62,82%,
sedangkan 37,18% lainnya mengatakan tidak mudah.
3.
92,52% pemilih pemula tidak setuju dengan
Ahmad Dhani yang mencalonkan diri pada PILKADA 2017, namun 7,48% setuju pada pencalonan diri
tersebut.
4.
Pemilih pemula yang tidak akan memilih
Ahmad Dhani apabila beliau menjadi kandidat Calon Gubernur pada PILKADA 2017 adalah 96,26% dan 3,74%
pemilih pemula akan memilih Ahmad Dhani.
3.2
Saran
3.2.1
Saran
bagi Pemerintah
1.
Mengadakan sosialisasi pendekatan oleh
penyelenggara pemilu kepada para pemilih pemula agar mereka mendapat informasi
yang jelas mengenai pemilu dan dapat memahaminya sebagai pengalaman baru mereka
nanti.
2.
Jadwal kegiatan kampanye terbuka dari
calon-calon legislatif diharapkan tidak berbenturan dengan jadwal jam sekolah
karena sebagian para pemilih pemula yang masih berada di bangku SMA tidak dapat
mengikuti kegiatan kampanye.
3.2.2
Saran
bagi Masyarakat
1.
Para pemilih pemula diharapkan dapat
berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan politik sehingga dapat menambah
wawasan tentang politik. Hal ini dapat dilakukaan dengan cara membagi waktu
antara belajar dan mengikuti kegiatan politik.
2.
Dukungan dari pihak keluarga dan tokoh
masyarakat yang positif dapat mendorong para pemilih pemula untuk dapat
meningkatkan kualitas peran pemilih pemula dalam dunia politik.
3.2.3
Saran
bagi Peneliti
1.
Peneliti selanjutnya disarankan agar
menggunakan lebih banyak sampel dalam penelitian, sehingga hasil yang
didapatkan akan lebih akurat.
2.
Peneliti selanjutnya juga disarankan agar
persebaran kuesioner dilakukan secara merata terhadap berbagai tipe sekolah,
baik swasta maupun negeri.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim,
Aim. 2007. “Pendidikan Kewarganegaraan untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas”.
Bandung: PT. Grafindo.
Amal,
Ichlasul. 1996. “Teori - Teori Mutakhir Partai Politik”.Yogyakarta: PT. Tiara
Wacana Yogya.
Aminudin, Suryana. 2011. “Perilaku Politik di Indonesia”, Jurnal Politik.
Arikunto. 2006.
“Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Ed Revisi VI”. Jakarta: Penerbit
PT Rineka Cipta,.
Arikunto. 2007.
“Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Aksara.
Bambang dan
Sugianto. 2007. “Pendidikan Kewarganegaraan”. Surakarta: Grahadi.
Budiarjo,
Miriam. 2005. “Dasar-Dasar Ilmu Politik, dalam buku suntingan Toni Adrianus
Pito, Kemal Fasyah, dan Efriza; Mengenal Teori-teori Politik”.
Choiriyati, Wahyuni. 2011. “Popularitas Selebiti Sebagai Komoditas Politik,
Ilmu Komunikasi FISIPOL UPN”, Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 9, Nomor 2, Yogyakarta.
Cholid, Narbuko dan
Abu Achmadi. (2003). Metodologi Penelitian. Jakarta, Bumi Aksara.
Djojosoekarto,
Agung, Rudiarto Sumarwono, Cucu Suryaman. 2008.“Kebijakan Otonomi Khusus
Papua”. Jakarta: Kemitraan.
Efriza.
2012. “Political Explore: Sebuah kajian ilmu politik”. Bandung: Alfabeta.
Gintings,
Alfito Deannova. 2008. “SELEBRITI mendadak POLITISI”. Yogyakarta: Arti Bumi
Intaran
Hasan, M. Iqbal.
2002. “Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya”. Bogor: Ghalia
Indonesia
Huntington,
Samuel dan Joan Nelson. 1994. “Partisipasi Politik Di Negara Berkembang”.
Jakarta: Rineka Cipta.
KPU Jakarta. 2012.
Laporan Penyelenggaraan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI
Jakarta. www.kpujakarta.go.id
dikunjungi pada 7 Juni 2016.
Kurniadi, Putra. 2013. "Perilaku Politik Elit Politik Lokal pada
PEMILUKADA Kota TanjungPinang 2012”.
Maisuri, Indah.
2011. Teori-Teori Politik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.
Martono, Nanang.
2011. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada
Peter,
Northouse. 2009. “Introduction Leadership Concept and Practice”. London:
SAGE Publication, Inc.
Prasetiyo,
Budi. 2010. “Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah
Langsung di Desa Wonokampir Kecamatan Watumalang Kabupaten Wonosobo”, Jurnal
Politik.
Rosdiana, Dian.
2015. Kondisi Politik Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Universitas Jenderal Soedirman.
Samuel J. Elderveld dalam Riswandha Imawan. 1993. “Analisis Hasil Pemilihan
Umum 1992 di Indonesia (Laporan Penelitian)”. Yogjakarta. Jurusan Ilmu
Pemerintahan FISIP UGM.
Singarimbun M,
Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey” . Jakarta: Pustaka LP3ES
Indonesia.
Sugiyono. 2002. “Metode
Penelitian Administrasi” . Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2009.
“Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D)” .
Bandung: Alfabeta.
Surbakti, Ramlan. 1999. “Memahami Ilmu Politik”. Jakarta: Grasindo
Wiryawan, Driya dan Pratiwi, Anisa. 2009. “Analisis Pengaruh Selebriti
Endorser Terhadap Brand Image Pada Iklan Produk Kartu Prabayar Xl Bebas Di
Bandar Lampung”, Jurnal bisnis dan Manajemen Jurnal Ilmiah Berkala Empat
Bulanan.
LAMPIRAN 1. KUESIONER
Kuesioner ini ditujukan untuk Pemilih Pemula DKI Jakarta
pada PILKADA 2017 dalam rangka mengumpulkan data valid mengenai “Tanggapan
Pemilih Pemula Terhadap Selebriti yang Mencalonkan Diri Sebagai Calon Gubernur
DKI Jakarta pada PILKADA 2017”
Mohon mengisi kuesioner dengan sebenar-benarnya.
Terima kasih.
Nama Sekolah :______________________________________________
Jenis Kelamin :______________________________________________
Tempat, Tanggal lahir :______________________________________________
Domisili :______________________________________________
1.
Apakah Anda mengetahui adanya PILKADA DKI Jakarta untuk pemilihan
Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2017 – 2021?
a. Ya. b.
Tidak
2.
Apakah Anda ingin berpartisipasi dalam PILKADA DKI 2017?
a. Ya b. Tidak
3. Menurut Anda, Gubernur seperti
apakah yang sangat dibutuhkan untuk memimpin DKI Jakarta? (Pilih Maksimal 4).
❏ Mengayomi masyarakat
❏ Tegas dan adil
❏ Jujur, terbuka
❏ Bertanggung jawab
❏ Bertindak cepat dan benar
❏ Sederhana
❏ Otoriter
❏ Sehat jasmani dan rohani
❏ Berintegritas
❏ Memiliki popularitas
4. Jalur apakah yang harus diambil
para Calon Gubernur agar cocok menjadi Gubernur DKI Jakarta?
a. Jalur independen b.
Partai
5. Apakah latar belakang seorang
calon Gubernur harus dipengaruhi oleh SARA (suku, agama, ras, dan antar
golongan)?
a.
Ya
(Jika ya, lanjutkan ke pertanyaan no. 6)
b.
Tidak (Jika tidak, lanjutkan ke
pertanyaan no. 7)
6. Suku, agama, ras, dan antar
golongan seperti apakah yang cocok sebagai Gubernur DKI Jakarta?
a.
Suku (mis. Batak, Bugis, Jawa,
dsb) :_______________________
b.
Agama (mis. Islam, Katolik, Hindu,
dsb) :_______________________
c.
Ras (mis. Mongoloid, dsb) :_______________________
d.
Golongan (mis. Menengah ke atas,
dsb) :_______________________
7.
Apakah pengalaman berpolitik itu penting sebagai nilai lebih untuk
dipilih?
a. Ya b.
Tidak
8.
Apakah profesi Calon Gubernur sebelum terpilih menjadi Gubernur
berpengaruh?
a. Ya b. Tidak
9.
Apakah Anda setuju jika selebriti terjun dalam dunia politik?
a. Tidak Setuju b. Setuju c. Sangat Setuju
10. Apakah dengan selebriti terjun
dalam pencalonan PILKADA akan lebih mudah mendapatkan dukungan karena ketenaran
yang mereka miliki? Berikan alasanmu.
a.
Iya,____________________________________________________________
b.
Tidak,__________________________________________________________
11. Apakah anda mengetahui isu
tentang Ahmad Dhani seorang selebriti yang dikandidatkan
sebagai Calon Gubernur?
a. Ya b. Tidak
12. Apakah Anda setuju jika Ahmad Dhani maju ke
PILKADA? Berikan alasanmu.
a.
Setuju,
_________________________________________________________
b.
Tidak setuju, ____________________________________________________
13.
*QS
Annisa 144: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang
mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk
menyiksamu)?
Bagaimana tanggapan Anda setelah
membaca kicauan Ahmad Dhani di akun media sosial miliknya
tersebut?_________________________________________________
14.
Bagaimana
tanggapan Anda setelah membaca pernyataan yang diucapkan Ahmad Dhani?________________________________________________________
15.
Bagaimana
tanggapan Anda setelah membaca kicauan Ahmad Dhani di akun media sosial
miliknya tersebut?________________________________________________
16. Apakah Anda akan memilih Ahmad
Dhani bila maju sebagai calon Gubernur pada PILKADA 2017?
a. Ya b.
Tidak
LAMPIRAN 2. SURAT IZIN
LAMPIRAN 4. GAMBAR
Gambar 1. Pembagian Kuesioner kepada Siswa-Siswi SMA
Negeri 54 Jakarta Timur
Gambar 2. Pembagian Kuesioner kepada Siswa-Siswi SMK
Yadika 2 Jakarta Barat
Gambar 3. Pembagian Kuesioner
kepada Siswa-Siswi SMA Taman Siswa 1 Jakarta Pusat
